Picnic

Mengenal Budaya dan Kuliner Khas Banyuwangi di Tengah Sawah ala Waroeng Kemarang

Apa yang kamu pikirkan pertama kali saat mendengar kata ‘Banyuwangi’? Apakah deretan persawahan hijau, perkebunan luas lengkap dengan nuansa savana, hutan lebat, atau pantai di sepanjang garisnya? Yap, yang kamu pikirkan tidak sepenuhnya salah, kok.

Sebagai kabupaten yang terletak di ujung Pulau Jawa, selain hiruk pikuk perkotaan di sini juga masih memiliki jajaran pegunungan yang terbentang di sebelah barat, area persawahan hingga perkebunan hijau, bahkan hutan yang masih terpelihara dengan baik. Sumber daya alam yang kaya ditambah dengan area kota dan industri kemudian membentuk Bumi Blambangan yang penuh dengan warna-warni kehidupan.

Seiring dengan geliat pariwisatanya yang semakin marak, Banyuwangi juga memiliki puluhan restoran, kafe, hingga angkringan yang tersebar di setiap wilayahnya. Didukung dengan budaya nongkrong ala anak muda, bisnis kuliner nggak pernah ada matinya bahkan terus bertambah sampai jadi sasaran para foodies baik lokal maupun mancanegara.

Salah satu restoran yang menjadi tujuan kuliner dari wisatawan saat datang ke Bumi Blambangan yakni Waroeng Kemarang. Terletak sekitar 9 km dari pusat kota, tempat makan yang menyuguhkan panorama alam ini punya deretan menu khas Banyuwangi yang murah meriah.

Nah, kalau bicara soal ‘murah’, kamu juga pasti akan tergiur kan? Oleh sebab itu, yuk deh langsung intip apa saja yang ada di sana!

Di sambut dengan tarian gandrung

Malam minggu adalah waktu yang tepat untuk datang kemari. Sebab tamu yang datang langsung disambut hangat dengan dua pasang penari gandrung. Lengkap pula dengan iringan musik khas Banyuwangi yang terdiri dari kendang, kempul, kluncing, kethuk, gamelan, biola, gong, angklung dan satu penyanyi sinden.

Sebagai resto yang mengusung tema Osing, tari Gandrung sudah menjadi jadwal rutin di Waroeng Kemarang untuk memberikan penghormatan kepada tamu yang datang. Suasana malam yang indah dengan semilir angin, ditemani pula dengan alunan musik dan tarian tradisional.

Berfoto bersama penari gandrung

Menariknya lagi, pengunjung yang datang bisa mengabadikan momen bersama para penari sembari menggunakan aksesoris yang telah disediakan. Suasana hangat begitu terasa saat para penari dengan ramah mempersilahkan untuk foto dan memberikan ucapan selamat datang.

Nah, ternyata setiap bulan Agustus tepatnya di malam Minggu, Kemarang menjadi tuan rumah dari lomba paju Gandrung se Kabupaten Banyuwangi. Event ini guna untuk melestarikan budaya lokal dan mengembangkan tarian khas Blambangan yang hingga kini sudah tercium baunya hingga ke mancanegara.

Jadi nggak heran saat ke sini, kamu akan merasa jadi orang paling terhormat karena sambutan hangat dari para penari Gandrung!

Ruang makan ala rumah suku Osing

Saat memasuki area ruang makan utama, terasa seperti bertamu di rumah suku Osing. Bagaimana tidak, meja kecil dari kayu yang dikelilingi oleh kursi-kursi tradisional berukuran pendek jadi tempat paling memanjakan.

Ruang makan utama

Di bagian pojok, tepat di sisi panggung alat musik disediakan sebuah kursi khusus layaknya tuan rumah. Di belakangnya dinding batu-batu bertuliskan “Kemarang Ning Pinggir Sawah, Ati Girang Dung Mari Gesah”, artinya “Kemarang di pinggir sawah, hati senang jika habis berbincang-bincang”. Dihiasi pula dengan koleksi foto dari orang-orang penting mulai dari pejabat hingga bintang ibu kota yang pernah datang kemari.

Sudut ruang tamu

For your information, rumah suku Osing memiliki ruang tamu yang juga berguna sebagai teras dengan pilar-pilar yang terbuat dari kayu. Tempat tersebut biasanya digunakan untuk menerima tamu. Dibatasi dengan dinding yang terbuat dari bambu atau batu bata untuk masuk ke ruang keluarga yang dilengkapi dengan kamar tidur. Sementara dapur merupakan bagian yang terluas dan terletak di bagian paling belakang.

Waroeng Kemarang mengadaptasi bangunan tersebut sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan rumah khas Banyuwangi kepada tamu yang datang. Nggak heran saat datang kemari, terasa seperti bertamu ke rumah saudara karena suasananya mirip dengan rumah adat yang didukung pula dengan penerangan agak remang-remang. Menarik, bukan?

Perabotan kuno di dalam ruangan

Nggak cukup sampai di sana, pada bagian dalam juga dilengkapi dengan perabotan kuno seperti gerobak yang terbuat dari kayu memberikan kesan ekletik. Kemudian pondok kecil menyerupai ranjang tempat tidur, biasanya digunakan oleh suku Osing untuk makan bersama keluarga.

Gerobak kayu

Ditambah pula lemari kayu yang pada bagian depannya penuh dengan kaca dengan ukiran kuno sebagai tempat untuk menyimpan properti para penari Gandrung. Salah satu yang juga nggak kalah menarik perhatian yakni hiasan dinding Barong tepat di samping pintu menuju ruang dapur.

Bagi kamu yang bertanya-tanya, kenapa sih beberapa arsitektur, bahasa, budaya seperti Barong hingga musik di Banyuwangi mirip sekali dengan Bali? Selain letak geografisnya berdekatan, persamaan ini juga ada kaitannya dengan jatuhnya Kerajaan Majapahit. Setelah berhasil dilumpuhkan oleh Kerajaan Islam pada masa itu, penduduknya banyak yang mengungsi ke Blambangan (Banyuwangi) yang kemudian menjadi Suku Osing dan lereng Gunung Bromo yang saat ini mereka dikenal dengan Suku Tengger.

Pentas tradisional

Jadi nggak heran jika di sini kamu akan menemukan corak Bali karena memang tradisinya dipengaruhi oleh akulturasi budaya Majapahit Hindu-Buddha. Sudah terjawab ya rasa penasaran yang selama ini mengganggu soal Banyuwangi yang mirip dengan Bali?

Bagian teras menghadap ke persawahan luas dan menara bambu

Beranjak ke bagian outdoor disambut dengan kursi ala Suku Osing beratapkan payung-payung besar. Di spot ini pengunjung disuguhkan dengan panorama persawahan hijau terbentang luas dari selatan hingga ke utara.

Ruang teras outdoor
Ayunan kayu

Datang kemari saat siang atau sore hari bisa merasakan semilir angin sejuk, burung-burung yang bertengger dari satu daun ke daun lainnya, serta langit biru yang menambah suasana damai. Nggak berhenti sampai di sana, pemandangan pondok-pondok kecil yang terbuat dari kayu melengkapi suasana asrinya.

Menara bambu dan pemain angklung

Sementara sambil menikmati hidangan yang disediakan juga diiringi dengan lantunan musik angklung dari dua seniman yang bermain di menara bambu yang tepat menghadap ke teras outdoor. Di sini pula titik paling asik untuk mengabadikan momen dengan latar lanskap sawah hijau menentramkan.

Deretan pondok kayu untuk keluarga

Kemarang tidak hanya menyediakan ruangan indoor yang dilengkapi dengan pentas kesenian tradisional, tempat ini juga tepat bagi kamu yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga sembari menyegarkan pikiran.

Deretan pondok di sekitar sawah

Deretan pondok yang terletak di sebelah timur, barat dan utara menjadi lokasi paling nyaman untuk  makan bersama dan bercengkrama bersama sanak famili. Pondok-pondok terbuat dari kayu kokoh yang dilengkapi dengan meja serta kursi santai. Sejauh mata memandang akan disuguhkan dengan karpet hijau dari persawahan sembari diiringi lantunan angklung. Satu dua jam di sini nggak akan terasa karena suasana terlalu nyaman dan sayang sekali untuk ditinggalkan.

Saat datang kemari, area outdoor jadi tempat favorit pengunjung ketimbang bagian indoor. Bagaimana tidak, suasana jauh terasa lebih santai, sejuk dan membuat siapapun betah berlama-lama. Sambil menunggu pelayan datang membawa menu, nikmati dulu lanskap permadani hijau yang bisa buatmu lupa diri.

Makanan super lezat khas Banyuwangi dengan harga murah meriah

Kemarang merupakan tempat yang tepat bagi kamu pecinta kuliner. Selain belajar tentang budaya, tamu disuguhkan dengan makanan lezat khas. Nggak perlu cari dari warung satu ke lainnya, sebab disini telah disediakan deretan menu yang emang selalu diburu oleh para traveler saat datang ke Banyuwangi.

Makanan berat terdiri dari rujak soto daging, babat dan campur. Kemudian Sego Tempong dengan aneka lauk pauk, seperti ikan asin, tahu, tempe dan sambal yang benar-benar nempong. Ada pula Sego Cawuk yang konon katanya sebagai makanan favorit Syeikh Siti Djenar. Terbuat dari santan, jagung bakar serut, mentimun, dan lauk telur pindang serta pepes.

Uyah Asem, Sego Tempong Komplit, Dadar Jagung, Surabi, Cucur, dll

Pecel pitik yang populer. Uyah asem yakni sayur asem dengan ayam kampung lezat, sampai aneka lauk seperti dadar jagung, pepes, dan lain sebagainya. Kenyang dengan makanan berat, kini saatnya untuk melahap jajanan tradisional yang nggak kalah nikmat, seperti semanggi dengan sambal serai, cucur, surabi, onde-onde, gembili, kentang rebus, gadel, dan lain-lain.

Bahkan menu minumannya pun sangat cocok dinimkati dengan udara pedesaan yang sejuk dan asri, lho. Seduhan jahe gula merah hangat yang menenangkan, es degan gula jawa yang menyegarkan, es temulawak, sampai es teh.

Anyway saat datang ke sini nggak perlu pusing memikirkan budget. Kenapa? Sebab harga menu yang ditawarkan berkisar Rp. 2000 sampai Rp. 30.000 saja. Gimana nggak menggiurkan? Bagi saya pecinta makanan murah sih sampai nggak bisa move on dan rasanya ingin tinggal saja di Kemarang.

How to get there?

Berkunjung ke Banyuwangi nggak perlu pusing dengan transportasi. Sebab wisatawan yang datang kemari telah disediakan fasilitas lengkap, mulai dari angkutan online dan kota, bis, kereta api, kapal laut hingga pesawat terbang.

Keberangkatan dari kota, bisa dimulai dengan angkutan kota nomor nomor 7 atau bisa disebut dengan Lin 7. Turun di Terminal Karangasem, kemudian pindah ke angkutan pedesaan arah Taman Suruh. Bisa juga dilanjutkan dengan angkutan online.

Sementara bila dimulai dari Stasiun Ketapang, kamu harus naik Lin 6 yang dilanjutkan dengan lin 7, lalu angkutan pedesaan. Dari Stasiun Karangasem atau kota justru jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi, jadi hanya tinggal menggunakan angkutan pedesaan atau cukup transportasi online.

Sedangkan apabila dari arah Jember disarankan untuk berhenti di Terminal Brawijaya Karangente, lanjutkan perjalanan ke Terminal Karangasem dengan Lin 8. Apabila dari Bandara Blimbingsari lebih baik menggunakan taksi atau transportasi online karena lokasi Bandara yang tidak dilewati oleh angkutan kota.

Kalau biasanya membayangkan gimana rasanya makan di pinggir sawah sembari ditemani suara angklung yang mengalun syahdu, maka Waroeng Kemarang bisa mewujudkannya. Usai dari sini, traveler bisa langsung menuju Perkebunan Kalibendo, Kawah Ijen, hingga kebun bunga di Jambu karena jaraknya tida terlalu jauh dari lokasi. Yuk ke Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali!

Alamat lengkap Waroeng Kemarang

Jl. Perkebunan Kalibendo KM. 5,
Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah,
Dusun Wonosari – Taman Suruh
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68432

You may also like...

6 Comments

  1. Keren tulisannya

    1. indahhikma says:

      Trima kasih Mas Joko sdh mampir di channel saya, jgn lupa like, subscribe dan share wkwkwk.
      Mas Joko share juga dong tulisan terbarunya….

  2. wow mantap thanks sharingnya, belum pernah ke sana nih tapi keren juga ya makan sambil liat orang nari.

    1. indahhikma says:

      Paling bikin nyaman suara angklungnya dari menara bambu. Trima kasih sdh membaca…

  3. Baca ini jadi kangen nasi tempong, 2 tahun yang lalu harganya 12 ribu sudah dapet teh manis porsinya juga banyak banget dan pedes luar biasaaaa. Tapi aku cobainnya di pinggir jalan lupa nama tempatnya dan wuhhhh rame banget!!!

    1. indahhikma says:

      Nasi tempong di sini emang super murah meriah mbak. Bahkan ada di warung-warung rumahan harganya cuma 4-5 ribu aja. itu udh endesss banget nggak kalah sama yg udah terkenal.

Leave a Reply to indahhikma Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *