Story

Sebuah Konsep Pernikahan Nuansa Putih Untuk Perempuan Pemimpi

Kukira semua orang tanpa terkecuali mendambakan pernikahan. Sebuah pesta bak Sri Ratu dan Maharaja. Gemerlapan lampu, gaun indah seorang saja yang memiliki, tuxedo nyaris tanpa lipatan, tamu terhormat berdatangan, makanan lezat untuk memanjakan siapapun yang datang dan iringan musik indah menggema seluruh ruangan. Siapakah yang tidak menginginkannya?

Itulah pula perempuan memiliki gambaran pernikahan seindah dongeng antah berantah. Setidaknya satu kali dalam seumur hidup, untuk dikenang selama-lamanya. Diceritakan pada anak cucu dan sebagai kebanggaan sendiri bahwasanya kini dunia sudah ada digenggaman. Maka perempuan adalah pemimpi yang ulung!

Tidak ada yang salah selama semua bisa diwujudkan. Selama giat bekerja mengumpulkan rupiah demi rupiah. Dan selama restu masih mengalir dalam ikatan dua hubungan anak manusia. Sebaliknya, ada pula yang memimpikan pesta tertutup. Hanya keluarga, kerabat dan orang-orang terdekat saja yang menyaksikan. Lampu remang, musik lirih, yang ada hanya kehangatan. Tidak masalah. Itu hak masing-masing orang. Sudah kubilang bahwa tiap-tiap memiliki pernikahan impian.

Mengenang kembali detik-detik mendebarkan sekali seumur hidup. Sudah jauh kami melangkah, bahkan terlalu jauh hingga tidak sanggup untuk kembali ke titik semula. Hari itu tiba begitu saja. Aku mendadak jadi pusat perhatian semua orang. Tidak pernah kuminta pada siapapun, pun kehendak diriku sendiri untuk berdandan berlapis, berpakaian adat dan malamnya aku dan dia berdiri dengan serasi di atas puadai putih yang selamanya akan diingat. Demikian pula orang-orang yang menyaksikan kala itu.

Semua bertanya-tanya, mengapa aku tidak terlihat seperti sehari-hari? Wajahku dalam polesan bak porcelaine yang menyala-nyala. Bergincu glossy warna berani tetapi lembut dan memerah pipiku seolah malu-malu. Juga dia yang tidak seperti biasa. Berpakaian Sunda putih pada pagi hari, malamnya berjas hitam seperti priyayi modern.

Lantas bagaimana pula seluruh ruangan dan dekor itu penuh dengan bunga-bunga putih? Dan lampu-lampu terang hingga ke sudut ruangan. Tamu pun tampak puas dengan hidangan yang tersaji di atas meja-meja besar. Akan kujelaskan siapa dan bagaimana aku bisa menerapkan konsep demikian, kemudian siapa pula orang-orang yang ada di balik pesta rakyat biasa ini bagaikan Sri Ratu dan Maharaja?

Memilih pakaian pengantin Sunda

Sederhana saja. Sebenarnya aku suka dengan sesuatu yang hanya memiliki satu warna, tetapi berkerlingan. Kupikir nanti dalam bayanganku tentunya, menjadi sesuatu yang elegan dan megah. Banyak warna di dunia ini, bahkan akhir-akhir ini semakin bermunculan warna-warna baru. Aku tetap memilih putih sebagai pengiring mimpiku di malam itu.

Aku percaya bahwa putih itu suci, tentu seperti yang diajarkan di bangku sekolah. Selain itu aku juga yakin bila warna tersebut memiliki kesan mewah sekaligus elegan. Pun jika diaplikasikan dalam rumah atau ruangan, akan memberikan suasana luas dan bersih.

Seperti yang sudah-sudah dan mungkin masih terus diaplikasikan, pesta pernikahan punya lebih dari dua warna untuk memunculkan kesan ramai. Bagiku, satu warna saja cukup membuatnya seperti sebuah kerajaan yang kuimpikan. Maka aku memilih putih sebagai gaun pernikahan sekaligus kebaya akad.

Beruntungnya aku punya ibu seorang penjahit. Kupercayakan pada dirinya untuk membuat sebuah gaun kebaya dari brukat bermotif halus. Kubelinya dengan harga relatif murah satu meternya dan dibikin model seperti pada contoh yang kugambarkan. Polos saja, tidak terlalu banyak ornamen. Hanya layer pada bagian bahu hingga lengan yang memberikan kesan bertumpuk. Lantas pernak-pernik melingkar di perut hingga punggung.

Bagian belakang lebih panjang dari depan untuk menciptakan kesan tinggi untuk diriku yang tidak terlalu tinggi nyatanya. Kebaya putih polos itu lantas dikombinasikan dengan kain jarik batik berwarna keemasan, sama seperti yang melingkar menutup bagian paha suamiku saat upacara akad.

Aku sengaja meminta berdandan adat Sunda kendati tidak keturunan itu dalam diriku, apalagi suami. Dewasa ini memang banyak yang mengaplikasikannya. Sempat bertanya-tanya mengapa banyak yang tertarik dengan model demikian, tidak lain karena memiliki titik keanggunan tersendiri, tepat pada Jamangnya atau beberapa menyebut siger atau singkar. Aku tidak memilih yang bermacam-macam, seperti yang terbuat dari kaca, berlian imitasi berkerlap-kerlip atau bahkan yang menyerupai ekor merak. Tidak. Kupilih yang paling kuno, paling tradisional.

Sebab aku percaya yang tradisional dan kuno justru memberikan keanggunan yang tiada duanya. Berat di bagian dahi, sehingga membuatku yang kecil mudah terjerembab ke depan. Belum lagi harus ditambah sanggul palsu untuk menusukkan kembang tanjung, ronce melati dan 7 kembang goyang. Berat sekali. Sangat berat. Tetap kutahan untuk berdiri bahkan tersenyum, karena di baliknya aku tahu ada simbol kesetiaan, rasa hormat dan kesucian.

Tidak pernah kulihat sebelumnya suamiku mengenakan pakaian serapi dan sebersih itu. Ia berbalut celana panjang dan atasan putih, kain batik bermotif sama sepertiku yang disampirkan pada bagian pinggang, songkok dan selop berwarna sesuai. Kami siap mengucapkan janji suci di sebuah Masjid bernama Nurul Huda, dekat rumahku.

Terinspirasi dari Royal Wedding

Aku tidak menghendaki warna lain di pesta pernikahanku selain putih. Seperti yang kujelaskan sebelumnya, bahwa tidak tertarik dengan jenis bunga-bungaan apapun yang berwarna-warni, sehingga membuat penglihatan terganggu. Bukan tanpa alasan juga memilih ini, sebab sejak dulu aku pengagum Royal Wedding dan pernikahan Cinderella walau dalam dunia nyata aku putri dari keluarga biasa-biasa saja.

Kupikir Lady Diana nampak begitu cantik dan elegan hanya dengan menggunakan gaun pengantin putih dan tiara. Lantas menantunya, Kate Middleton pun demikian. Sederhana saja, namun elegan. Peganganku dalam menentukan konsep pernikahan.

Beberapa bulan sebelum pernikahan aku cukup stres menentukan gaun seperti apa yang kukehendaki. Calon suamiku tidak suka yang neko-neko atau mencolok. Jujur saja aku bosan dengan konsep warna-warna terang, pastel, apalagi warna-warni. Aku tidak menemukan satupun yang dikehendaki.

Beruntungnya di era post modern ini ada produk yang cukup berjasa untuk mencari suatu inspirasi, sosial media. Kubuka Instagram dan memata-matai akun salah satu MUA yang namanya terkenal di kotaku. Sampai pada salah satu unggahan kutemukan pengantin dengan gaun putih, hiasan bulu pada bahu, kerudung polos simpel dan sebuah tiara menambah kesan anggun bukan main. Kutetapkan bahwa aku ingin seperti itu. Segera kuhubungi empunya pemilik gaun dan riasan itu.

Sayangnya saat si empu bilang bahwa gaun tersebut bukan miliknya, melainkan milik penyewaan lain dan disewakan dengan harga selangit. Aku mundur. Tetapi, Tuhan memberikanku kemudahan, ia menawarkan gaun bermodel sama, berwarna putih dengan mutiara dan cape untuk yang berjilbab. Ketika itu tengah proses pengerjaan. Aku mengiyakan.

Tiga bulan kemudian, si empu memberiku potret seorang model cantik dengna gaun tersebut. Bertaburan mutiara pada bagian bahu yang berbahan tile tipis terawang. Indah sekali. Tidak berpikir panjang, segera ku setujui untuk mengenakan itu di malam resepsi nanti.

Tidak kukira bahwa sebenarnya gaun tersebut sangat berat. Bertumpuk, berlayer-layer. Sangat mengembang, dibantu oleh katrid lipatan yang membantunya lebih bervolume. Bagian belakang terjuntai bertemu dengan riasan kerudung panjang yang jatuh dari ujung kepala hingga ke bawah. Belum lagi korset untuk memberikan kesan ramping, juga menjadikan gaun tidak mudah merosot. Agak sesak, tapi kukira setidaknya harus merasakan satu kali dalam seumur hidup bukan?

Tepat seperti bayanganku, mutiara menghiasi bagian dada yang terbuat dari tile tipis. Kain pun ternyata ber-embose dan mengeluarkan kerlip-kerlip menambah kesan elegan. Aku merasa seperti hidup di era Victoria. Setidaknya aku sudah merasakan berpakaian seperti tokoh-tokoh yang kutonton dalam film berlatar belakang sejarah.

Bagian jilbab pun aku hanya menggunakan kain organza kaku berwarna putih. Perias tahu seleraku, simpel. Maka tak dibuatnya berlebihan. Cukup biasa saja seperti akan pergi ke kafe. Ditambahnya tiara ramping, tidak terlalu besar juga kecil. Ukurannya pas. Dari ujung kepala hingga kaki, aku merasa sudah sangat sempurna dan sesuai yang kuimpikan.

Sementara suamiku. Aku tahu seleranya, sama denganku. Tidak suka sesuatu yang berlebihan. Maka kuusulkan untuknya tuxedo dan celana hitam, kemeja putih dan bunga kecil di saku dada kirinya. Sepatu kulitnya mengkilat, dan malam itu sepertinya dia memberikan pomade cukup banyak, sehingga tampak berkilauan dan rapi.

Kami duduk di atas puadai berhiaskan bunga-bunga putih….

Dekorasi serba putih

Aku pun tidak ingin bermain warna-warni untuk dekorasi puadai dan seluruh ruangan. Sejak pertama kali bertemu dengan empunya, aku sudah mengatakan bahwa kuingin semua serba suci tanpa tercoreng oleh warna lainnya. Ia mengiyakan dan sebisa mungkin mengabulkan permintaan klien tak banyak maunya sepertiku.

Dua hari sebelum hari H, ia menunjukkan sebuah foto beberapa dekorasi puadai. Semuanya cantik, tetapi aku hanya tertarik satu. Penuh bunga suci. Kutunjuk itu saja, tanpa pikir panjang. Aku pun terkejut, tanpa ditinjau lagi, ternyata dekorasinya sungguh megah dan mewah. Kulihat itu pertama kali saat malam resepsi. Tidak kukira, aku hanya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Menyekat bagian utama dan penerima tamu, hanya papan kayu putih dengan bunga-bunga putih. Sepanjang jalan masuk menuju puadai, karpet putih berbunga putih pula. Pun demikian dengan atapnya, bergelantungan serba suci. Sementara bagian kanan kirinya layaknya ranting dengan warna sesuai. Tidak ada warna lain.

Beranjak pada ruang makan tamu dan keluarga, menyesuaikan. Dan yang bikin aku takjub tentu saja puadai. Tidak pernah kulihat sebelumnya. Berupa papan-papan yang didekor sedemikian rupa, lebih panjang di bagian tengah dan makin pendek ke pinggir. Diselingi bunga mawar putih. Lantas kursi pengantin dan orang tua, semua menyesuaikan.

Tepat pada bagian bahwa puadai, menjalar bunga-bungaan kecil dan kayu-kayu. Nantinya ini kugunakan untuk berfoto sampai kakiku tertindih kayu. Lupakan! Memang untuk mendapatkan angle yang bagus harus berkorban, bukan?

Makeup bold dan flawless

Sudah kuceritakan di atas, bila aku mempersiapkan pernikahan ini enam bulan sebelumnya. Lima bulan sebelum itu, aku mencari makeup artist terbaik. Aku tahu yang terbaik tentu lebih mahal, tetapi kukira ada yang baik hati memiringkan harga. Tidak gentar kucari satu persatu MUA di Banyuwangi. Dan memang kotaku ini, gudangnya MUA terbaik. Tidak ada yang menandingi.

Aku sendiri sempat mimpi jadi MUA, sebab belakangan ini mulai diincar oleh calon pengantin dan para wanita yang ingin tampil cantik. Sebenarnya sangat menjanjikan, namun apalah daya aku hanya bisa merias diriku sendiri, tidak untuk orang lain.

Lantas aku menemukan empunya yang juga pemilik dekor dan gaun itu. Ku teliti satu persatu hasil karya yang ia unggah di akun media sosial. Menurutku paling halus dan modern dari pada lainnya. Juga beberapa tetangga hingga saudara merekomendasikan itu untukku. Tentu saja aku mempercayainya.

Aku hanya mengatakan ingin bold makeup karena dalam keseharian aku tidak pernah merias setebal itu, tetapi sebenarnya aku ingin. Oleh sebab itu, aku pikir ini kesempatan bagus untuk merasakan riasan tebal, halus dan modern. Pagi hari saat akad, dibuatnya aku sehalus mungkin meski tebal.

Entah berapa shade foundation dengan merek yang semua perempuan tahu diaduk menjadi satu, lantas diusapkan secara rata ke seluruh wajah. Yang kutahu, semua pekakas makeup-nya dari brand kenamaan dan didambakan oleh kaum hawa. Powder pun diusapkan secara perlahan dan merata, warnanya menyatu dengan kulit asliku. Bagian alis yang tidak dibuat terlalu tebal, namun hanya tipis-tipis, sehingga nampak natural.

Lantas bagian eyeshadow berwarna brownie, berlayer hingga menciptakan gradasi warna elok. Sampai ke pemerah pipi yang membuat pipiku merona. Kupinta lipstik bold namun glossy, agar tampak berbingaran.

Malam harinya untuk resepsi, kupinta bold sekali lagi. Maka empunya pun mengangguk dan mengatakan, “Oke bold in another way ya.” Aku setuju. Entah bagaimana dia mengaplikasikan benda-benda kecantikan itu ke wajahku. Namun saat dikaca kulihat aku seperti bukan diriku. Sungguh bukan main hasilnya!

Shade foundation, powder, eyeshadow, blush on, hingga lipstik lebih gelap dari pagi hari. Highlight pun dilebihkan untuk memberikan kesan glowing, berkerlipan. Yang pasti ciri khasnya, bagian dagu dibuat lancip, sehingga aku benar-benar merasa seperti putri entah dari mana. Aku tak mengenali diriku.

Sedikit cerita tentang kartu undangan

Kusebarkan undangan satu minggu sebelum hari spesial datang. Keluarga, sahabat, kerabat dan semuanya, baik dekat maupun jauh. Mereka protes. Bukan protes karena begitu mepet dengan hari H, melainkan mengapa di zaman post modern ini masih menggunakan ejaan lama. Aku tertawa, pun dengan bapakku.

Begini, sejak awal sebelum menikah, aku dan suami ingin sesuatu yang belum dikenal oleh masyarakat. Bagi kami, undangan merupakan citra dari pernikahan atau saat ini disebut dengan first impression. Dari sana, para tamu berekspektasi terhadap pesta pernikahan nanti.

Biarpun hanya kartu undangan, dibaca lalu dibuang, namun kami sangat menghormati calon tamu sebagaimana mestinya. Maka jika kartu pada umumnya kembali disebarkan, justru akan membuat mereka lekas membuangnya, bukan? Jangankan dicontoh, mungkin hanya dibaca pada bagian siapa yang menikah, tempat dan waktu pelaksanaan resepsi.

Beruntungnya aku, suami mahir dalam desain mendesain kartu undangan. Aku dan dia suka sesuatu yang kuno, retro, vintage. Kami sepakat untuk membuatnya dengan nuansa kuno dan berejaan lama. Jadi tujuannya, tidak hanya memberikan informasi, melainkan membiarkan para calon tamu berusaha membaca tulisan rumit, sehingga dibacanya seluruh yang tertulis di atas kertas itu. Sukur-sukur ditiru.

Lantas, mengapa tidak ada ayat Al-Qur’an di dalamnya? Sudah kubilang kami hanya ingin sesuatu yang berbeda, tidak mubadzir dan dibaca seluruhnya. Bukan karena tidak beriman dan bertakwa sehingga tidak menyertakan Ar-Rum ayat 21. Nyatanya, selama ini calon tamu tidak membaca bagian itu, bukan? Oleh sebab itu kami tidak membubuhi, cukup kami mengerti dalam hati makna serta arti ayat dalam surah Al-Qur’an itu.

Instagram para empu yang telah berjasa: 
MUA/Dekorasi/Gaun : @devpus84
Fotografi & videografi: @yanzstudio
Catering: @bujitocatering
Henna: @tarhamhenna
Souvenir: @souvenir_pernikahan_siti
Invitation letter: @ananthaperdana
Family homestay: @oyo.indonesia
Venue: #gedungkorpribanyuwangi

 

You may also like...

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *