SHARING MY EXPERIENCE AS A REMOTE CONTENT & COPYWRITER
Story

Sharing My Experience As a Remote Content and Copywriter

Boleh saya intermezzo dulu sebelum pada intinya? Okay, here we go!

Welcome 2024, semoga sepanjang tahun ini kalian akan mendapatkan berkah dan dilancarkan dalam segala urusan.Tidak terasa ya, sepertinya baru kemarin menghadapi gelombang Covid-19 yang super hectic. Tapi nyatanya, kita semua hebat karena telah sampai pada titik ini tanpa kurang suatu apapun. Yah meski dalam prosesnya tidaklah mudah, pernah jatuh, nangis, galau, konflik batin dan lain sebagainya. Wajar, namanya juga manusia, namanya juga hidup.

Menjelang tahun baru kemarin, kalian pergi kemana nih? Boleh bagi ceritanya di kolom komentar nanti ya. Wah pasti seru! Tapi buat kalian yang tidak sempat pergi kemana-mana, tenang saya juga demikian. Karena memang dalam keseharian saya dan suami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, jadi begitu ada kesempatan libur agak panjang, sebaiknya menghabiskan waktu berdua di dalam kota saja. Paling kita makan di luar selama 3 hari berturut-turut, kerja bakti beres-beres rumah, pergi ke kaki Ijen, dan sambang orang tua.  

Nah, berangkat dari stay at home ini, jadi muncul pikiran tentang berbagi pengalaman seputar Content dan Copy writer. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat melemparkan pertanyaan mengenai hal ini di akun X. Beberapa teman-teman sih mau banget dengan topik itu, tetapi saya yang terkadang tidak pede karena merasa masih belum pantas dan banyak yang lebih kompeten serta capable untuk menjelaskannya panjang lebar.

Akan tetapi ada beberapa teman-teman juga yang dengan sengaja DM di X, Instagram dan japri melalui WA untuk menanyakan hal seputar Content dan Copywriter. Hmm, okay saya coba tulis semampunya serta sesuai pengalaman berkecimpung di bidang ini selama kurang lebih 9 tahun, ya. Jadi, mulai dari mana nih kita? Dari sini aja kali ya!

Bedanya Content Writer dan Content Creator itu apa sih? 

Selain “Ndong, ngapain?” dan “Ndong, dimana?”, ada pertanyaan lain yang sering saya dapatkan di WA pribadi, 

 “Ndong, mau tanya, bedanya Content Writer dan Content Creator itu apa ya?”

Okay begini, saya yakin kamu sudah mencari tahu tentang hal ini melalui Google, tetapi masih kurang memahaminya karena ada banyak istilah serta contoh yang rumit, terutama untuk pemula. Maka, saya mencoba untuk menjelaskan kedua istilah tersebut tanpa melalui sumber manapun, sehingga kamu tidak akan menemukan jawaban klise seperti pada source lain. Jadi apa yang dijelaskan berikut pure hasil rangkaian kata sendiri berdasarkan pengalaman serta apa yang saya terima selama ini, harapannya supaya lebih mudah dicerna.  

Content Writer dan Content Creator itu…

Istilah “Content” atau dalam Bahasa Indonesia “Konten” artinya adalah “Isi”. Kata tersebut mulai populer baru-baru ini setelah maraknya video-video Youtube, kemudian disusul dengan di media sosial seperti Instagram, Tiktok, Facebook hingga X. Kepopuleran itu turut menaikkan nama “pelakunya” yang diberi label “Content Creator”. 

Dewasa ini, istilah Content Creator itulah yang populer dan digaung-gaungkan sebagai profesi dominan dari generasi milenial dan gen Z. Seorang Content Creator mulai diminati karena menawarkan sejumlah keuntungan seperti kepopuleran, bekerja dari mana saja, mendapatkan endorsement dan pendapatan yang tidak main-main.  Benefit lain yang didapatkan berupa traffic serta engagement dari media sosial yang mengantarkan mereka pada istilah baru yakni “Influencer”.

Profesi Content Creator sebagai ahli dalam pembuatan konten video maupun gambar pada akhirnya mengalami perluasan ke arah korporat menjadi sebuah nama jabatan di perusahaan maupun instansi. Jika kamu amati dengan saksama, baik di job seeker platform maupun media sosial, hampir seluruh perusahaan baik negeri maupun swasta saat ini membutuhkan posisi untuk Content Creator. Tujuannya sebagai alat pemasaran karena saat ini konten video serta gambar bisa menjangkau audiens secara luas.

Dari kepopuleran Content Creator ini, membuat arti dari Content Writer dinilai sama. Nyatanya, keduanya berbeda baik dari segi job desk, peranan, media, serta proses kerja. Saya lebih dulu mengenal profesi Content Writer sejak kuliah tahun ketiga sekitar 2013 karena beberapa perusahaan media online saat itu sedang gencar mencari si jago nulis untuk mengisi kolom-kolom rubriknya. Ditambah lagi, adanya peraturan SEO agar membuat konten tulisan muncul pada halaman pertama mesin pencari, sehingga situs mengalami kenaikan traffic.  

Istilah Content Writer sendiri mulai muncul setelah era digitalisasi. Sebelum itu, saya mengenalnya sebagai Penulis Artikel yang biasa bekerja untuk media cetak. Ciri khas karyanya berupa tulisan panjang informatif, membahas suatu topik secara detail, dibarengi dengan ilustrasi gambar. Jadi, Content Writer sebenarnya merupakan istilah beken dari Penulis Artikel. Kira-kira begitu mudahnya untuk memahami. Maka apabila dibandingkan, Content Writer lebih dulu ada dibandingkan Content Creator. 

Baik, sampai disini apakah pengertian yang saya tulis bisa dipahami, yorobun? 

Topik apa sih yang biasa ditulis oleh Content Writer?

Pertanyaan selanjutnya yang sering ditanyakan kepada saya, kurang lebih bunyinya begini,

“Ndong, terus Content Writer itu nulis apa saja?” 

Very good! Mula-mulanya, Content Writer itu punya keahliannya masing-masing. Contohnya begini saja, ada penulis novel bergenre romansa, adventure, komedi, atau bahkan dewasa. Lalu misalkan lagi, ada penulis tentang buku-buku bisnis, filsafat, agama, hingga parenting. Ruang lingkup yang mereka tulis selalu tidak jauh-jauh dari keahliannya itu, meskipun terkadang ada pula karya yang keluar dari lingkaran yang biasanya digeluti. Itu sah-sah saja. Well, ini sama halnya dengan Content Writer yang punya ahlinya masing-masing. 

Si Travel Content Writer

Ini dia genre Content Writing yang paling diidam-idamkan dan diminati oleh hampir seluruh pemula. Pasti bayangannya tentang perjalanan wisata, berpetualang, mendokumentasikan momen lalu menulisnya. Faktanya, bayangan itu tidaklah salah. Memang itulah yang dilakukan oleh Travel Content Writer

Tetapi kamu harus ingat, bahwa menulis travel bukan sekadar menceritakan kembali perjalanan wisata, tetapi bagaimana caranya menjelaskan secara detail apa yang ditemui, ada apa saja, bagaimana bisa sampai disana, tips berwisata, dan hal-hal menarik lainnya selama berada di tourism object. Oleh sebab itu, mereka ini memiliki kebebasan menulis, namun tetap menerapkan unsur deskriptif, nyaman dibaca, dan mengajak audiens turut serta dalam perjalanan.  

Si Food Content Writer

Biasanya Food Content dimasukkan ke dalam Travel Content. Namun ada pula media yang sengaja memisahkan keduanya karena “Food” disini mencakup banyak kategori seperti recipe, traditional food, Asian food, West food, sampai food review. Food Content Writer bukan sekadar me-review makanan kemudian menyulapnya menjadi tulisan, melainkan juga mengerti tentang dunia perkulineran. 

Beberapa food content writer bahkan benar-benar mempraktikkan resepnya, untuk kemudian dibagikan melalui konten. Tapi it’s okay jika kamu tidak suka memasak, asalkan suka kulineran dan icip-icip makanan, itupun sudah cukup untuk membuat tulisan tentang food yang menarik. 

Si Business Content Writer

Pada tahun 2018, saya pernah bekerja sama dengan salah satu perusahaan konsultan bisnis berbasis di Jakarta untuk 1 tahun kontrak. Ketika itu saya belum memiliki pengalaman menulis bisnis sama sekali, sehingga saat project dimulai, semuanya learning by doing saja dengan bimbingan dari CEO langsung. 

Business Content Writer menulis tentang apapun yang masuk ke dalam ranah bisnis, penjualan dan erat pula kaitannya dengan ekonomi serta keuangan. Bisa dibilang cukup menantang karena kamu harus up to date tentang berita bisnis dan ekonomi di seluruh dunia. Alih-alih cuma menulis seputar tips berjualan, penulis dengan genre ini juga membahas mengenai saham, studi kelayakan, perbankan syariah, konvensional, bitcoin, funding sampai grafik analisa bisnis. Hmmm, cukup berat ‘kan? 

Si Lifestyle Content Writer

Konten lifestyle banyak diminati oleh pembaca karena merangkum pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari. Ciri-ciri artikelnya seperti, Tips Memperbaiki Hubungan Dengan Mantan (Dih, ngapain? wkwk), Cara Menjaga Life Balance, Meningkatkan Produktivitas Kerja, Tips Menjaga Keharmonisan Dengan Pasangan, dan masih banyak lagi contohnya. 

Dibandingkan dengan konten bergenre lainnya, lifestyle bisa dibilang paling mudah dan direkomendasikan untuk pemula. Selain relate dengan kehidupan sehari-hari, juga banyak sumber-sumber yang memuat topik ini. Biasanya juga, Lifestyle Content Writer menuliskan pengalaman pribadinya untuk membuat tulisan menjadi lebih hidup. 

Si Fashion & Beauty Content Writer

Kalau konten ini sih favoritnya cewek-cewek, ya. Jujur saja, selain travel content, saya paling suka ketika menulis seputar fashion dan beauty. Rasanya seperti menyalurkan passion, berbagi pengalaman dan menjadi diri sendiri saja. Pada beberapa media, dua kategori ini dipisah karena memuat dua unsur pembahasan yang berbeda, namun ada pula yang memasukkan dalam satu kelompok sebab dinilai masih saling berhubungan.

Soal fashion, biasanya Content Writer harus memahami tentang hal-hal seputar tren busana baik masa kini maupun terdahulu. Ada banyak istilah-istilah dalam dunia fashion yang harus kamu mengerti untuk mendukung tulisan, seperti couture, corduroy, fashion statement, avant garde, capsule wardrobe, chic, timeless, attire, dan masih banyak lagi lainnya. Kesemuanya sudah tentu harus kamu gunakan, asal tidak terkesan memaksa. Everything must be smooth.

Lantas bagaimana dengan beauty? Sama saja. Bahkan beauty dibagi lagi menjadi beberapa kategori, seperti Korean Makeup and Skincare, West Makeup and Skincare, Review Produk, hingga tren makeup dahulu sampai kini. Penulis harus mengerti benar mengenai dunia kosmetik dan per-skincare-an karena artikel yang kamu tulis menjadi rujukan bagi para beauty enthusiast. Oh ya satu lagi, jangan lupa pula belajar istilah-istilah dalam dunia kecantikan ya, seperti cakey, pigmented, dewy and matte, blending, baking, dan masih banyak lagi lainnya.

Si Entertainment Content Writer

Entertainment Content ini juga mencakup beberapa kategori, seperti misalnya musik, film, drama atau serial dan tentang para selebriti baik dalam maupun luar negeri.  Maka tidak heran bila pada praktiknya ditemukan berbagai macam content writer di dalamnya, yang memang memiliki keahlian untuk masing-masing topik di atas.

Sejauh ini selain lifestyle, entertainment content adalah topik paling diminati oleh Content Writer pemula. Kalau di logika, siapa sih yang tidak suka dengan musik, film atau serial? Pasti banyak dari kalian yang menyukainya ‘kan. Tidak heran bila peminat untuk konten ini cenderung membludak dibandingkan dengan topik lainnya.

Si Home & Property Content Writer

Ah satu lagi topik favorit saya saat menulis, yup Home & Property! Ini tuh topik paling seru saat proses penulisan. Sebab dituntut untuk bisa mendeskripsikan keestetikan sebuah hunian dan gedung. Jadi selain bermain-main dengan realita, writer juga mesti cakap membayangkan sesuatu hanya dari gambar. 

Eits tapi tunggu dulu, konten Home & Property ini juga mencakup hal-hal secara teknis seperti bahan pagar, CNC, laser cutting, perbetonan, vinyl, dan material pembangunan rumah atau gedung. Meskipun terdengar sangat “pertukangan”, tetapi percayalah hal-hal demikian ini yang akan kamu temui ketika berada dalam posisi Home & Property Content Writer

Si Health Content Writer

Salah satu topik paling susah dan harus revisi berkali-kali jatuh kepada Health. Konten bukan hanya sekadar menuliskan tentang gangguan kesehatan dan cara pengobatannya, namun juga menjelaskan secara detail hal-hal mengenai kesehatan berdasarkan fakta, data dan sains. Audiens utamanya biasanya akademisi, orang-orang yang berprofesi di bidang kesehatan, dan masyarakat biasa yang membutuhkan informasi.

Konten kesehatan merupakan topik paling krusial yang harus dipikirkan secara matang sebab hal ini menyangkut “manusia”. Missed informasi dan kesalahan-kesalahan dalam konten tidak bisa ditolerir. Everything must be perfect dan sesuai ilmu kesehatan! Penting juga menggunakan sumber-sumber credible dari instansi kesehatan resmi, jurnal ilmiah, serta thesis. Jika source terpaksa harus diambil dari online, maka pastikan menggunakan domain-domain seperti .gov, .ac.id, .org dan sejenisnya. 

Si Psychology Content Writer

Psychology Content hampir sama dengan Health. Segala kesalahan di dalamnya tidak bisa ditolerir. Konten juga harus runtut, baku, formal dan menunjukkan penjelasan yang detail. Tidak sembarang orang bisa menjadi writer untuk topik ini, biasanya perusahaan hanya mau meng-hire untuk mereka yang memang lulusan Psychology saja.

Si Parenting Content Writer

Ini dia kesukaan emak-emak seluruh Indonesia! Eh, saya mau cerita sedikit tentang para penulis parenting. Jadi, topik ibu dan anak tetap menjadi favorit kaum hawa, khususnya mereka yang sudah memiliki buah hati karena merasa relate dan memahami tentang serba-serbi menjadi ibu. Saya punya beberapa teman writer yang mana dulu kita merintis bersama hingga akhirnya kini masing-masing telah menikah. Ketika masih single, mereka rutin menulis tentang berbagai topik seperti fashion, advertorial, kesehatan dan lain sebagainya. Tetapi sekarang begitu sudah menjadi ibu, lebih sering menulis tentang topik ini. 

Saat saya bertanya kepada mereka, mengapa kok ganti ke fokus nulis ke parenting? Jawaban mereka umumnya, karena simpel dan dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai ibu. Menulis tentang parenting memang seseru itu, bahkan topik ini juga membuat mereka jadi belajar tentang ilmu merawat buah hati yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Judul-judul seru yang biasa ditulis contohnya, “Resep MPASI Buah Hati”, “Solusi Supaya Buah Hati Tidak Bintitan”, “Pentingnya Mom Me Time di Waktu Luang”, dan masih banyak lagi lainnya. 

Si Edukasi Content Writer

Bisa dibilang, Edukasi konten adalah yang paling membosankan saat proses penulisan. Umumnya menggunakan bahasa formal, baku, namun tetap mudah dipahami oleh pembaca. Topik ini biasanya dibutuhkan untuk project dari Lembaga Pendidikan, baik formal maupun informal hingga beberapa media yang mengangkat informasi seputar edukasi. 

Adapun cakupan yang banyak diminta untuk diulas, seperti mengenai beasiswa, sistem pendidikan, syarat-syarat masuk perguruan tinggi, tips masuk perguruan tinggi negeri, trik masuk perguruan tinggi swasta, sampai cara ampuh lulus TOEFL. Tapi, kamu juga bisa menulis dengan sudut pandang lain agar lebih menarik. Contohnya “Tips Belajar untuk si Ekstrovert”, “Mau Masuk Waseda University Seperti Jerome Polin? Ini Bocorannya”, dan POV unik lainnya yang membuat audiens tertarik untuk membaca.

Si Teknologi Content Writer

Konten teknologi lebih bersifat unisex, sebab tidak hanya penulis perempuan tetapi juga didominasi oleh laki-laki. Topik ini relatif teramat luas mengingat produk teknologi di era sekarang begitu banyak, misalnya mengenai smartphone, home electronic, AI, game tools, dan lain sebagainya. 

Sejauh ini, saya pribadi belum pernah mengulas teknologi secara deep. Namun sempat juga dapat project untuk mengulas smartphone dan AI. Seru sih, tetapi mesti banyak research karena target audiens tentunya para expert dan orang-orang yang memang paham mengenai dunia techno

Si Otomotif Content Writer

Konten otomotif biasanya paling diminati oleh para Content Writer cowok. Kamu bisa mengulas tentang motor, mobil, race, dan printilan-printilan lainnya yang masih masuk dalam area otomotif. Sejauh ini, beberapa sumber untuk belajar tentang konten otomotif yang direkomendasikan sih, Classic Motorsport, Car and Driver, Grassroots Motorsports, Hemmings, Road Track, Autoweek, dan lain sebagainya. 

Si Sport Content Writer

Seumur-umur baru satu kali dapat project tentang sport, itupun mengenai sepakbola saat Copa America dan Piala Eropa. Alhasil saya yang tidak tertarik dengan dunia bola mau tidak mau harus belajar dan mempelajari lebih dalam mengenai topik ini. Kelihatannya sih simpel, tetapi ada berbagai macam hal yang bisa dikulik, misalnya saja tentang pertandingan, pemain, gol, stadion, dan berbagai cerita yang menyertainya. 

Dunia sport itu begitu luas, bayangkan saja ada berapa banyak cabang olahraga di dunia ini. Bahkan jika tampaknya hanya penulis cowok yang berminat, nyatanya banyak juga Content Writer perempuan yang jago menulis tentang sport. Tidak mesti juga harus jago dengan olahraga, yang penting tahu banyak karena itu bekal paling mujarab untuk berbagi informasi dengan audiens. 

Si Advertorial Content Writer

Pernah tidak kalian merasa tertipu dengan sebuah konten artikel. Awalnya membahas tentang rumah, tapi kok tiba-tiba di akhirnya ada promo perumahan. Atau misalnya saat asik baca artikel fashion, eh banyak link menuju situs ice cream. Sebel ya ketika sudah serius mengikuti informasi, nyatanya cuma iklan. 

Ya, itulah tujuan dari artikel advertorial, menggiring pembaca pada informasi terlebih dahulu lalu masuk ke produk. Tapi, sebenarnya jenisnya ada dua dan bisa kalian bedakan secara langsung: 

Hardsell –  yang mana artikel langsung membahas tentang produk, misalnya tentang keunggulan, manfaat, nilai-nilainya. 

Softsell – artikel membahas tentang informasi lain,kemudian dihubungkan dengan produk di akhir bacaan. Atau membahas tentang informasi lain dan hanya menyisipkan link menuju ke produk.

Saya punya cerita dikit nih tentang advertorial writing. Jadi sebenarnya, saya serius di bidang ini berawal sebagai Content Brand yang tugasnya nulis mengenai konten iklan. Sejujurnya waktu itu sebagai penulis pemula merasakan begitu pressure karena ada berbagai macam alasan:

Pertama karena berhubungan dengan klien besar, revisi berkali-kali karena apa yang ditulis menyangkut citra produk dan perusahaan.

Kedua skill writing benar-benar diuji karena ada banyak rules untuk menulis advertorial, contohnya keluwesan bahasa, tidak to much, harus mengikuti voice brand yang sudah ditetapkan oleh perusahaan klien, mengikuti aturan khusus yang dibuat oleh klien dari segi gaya bahasa, penggunaan kata atau kalimat, hingga target audiens, writing like speaking untuk produk-produk tertentu, harus bisa bridging dengan baik ke produk supaya tidak terlihat kaku dan masih banyak lagi lainnya.

Ketiga dipantau oleh lead editor dan klien secara langsung. No tipo, no apapun yang membuat tulisan dinilai “cacat”.

Keempat harus sesuai deadline, no molor-molor atau santai-santai dulu. 

Meskipun banyak rules dan challenge untuk menulis advertorial, tetapi saya bersyukur memulainya dari konten ini. Karena dengan bekal yang banyak dan pressure yang cukup berat, saya jadi lebih mudah untuk menulis konten lain. Dari sini saya juga punya bekal untuk self editing dan proofreading yang sangat-sangat berguna di masa sekarang. 

Si SEO & Digital Marketing Content Writer

Kalau kamu pemula pasti bertanya-tanya apa sih SEO content yang belakangan ini banyak digaung-gaungkan oleh perusahaan terutama digital marketing agency? Jadi gais, karena hasil karya Content Writer itu ditayangkan secara online, maka sudah pasti harus menaklukkan hati Google agar mudah ditemukan oleh audiens dan banyak pembacanya. 

Topik apapun yang kalian tulis, tentu semuanya harus SEO friendly. Caranya gimana sih agar tahu kalau artikel yang kita tulis itu SEO Friendly

  1. Keyword research dulu sebelum nulis, biasanya pakai tools seperti SEMrush, Ahrefs dan Google Keyword Planner. Bisa juga pakai tools lain yang memang nyaman atau biasa kalian gunakan.
  2. Tentukan main keyword dan secondary keyword. Contoh main keyword “Tips mudik”. Lalu secondary keyword-nya “Tips mudik lebaran”, “Tips mudik aman”. 
  3. Cek dulu keyword density-nya, paling the best 0,75 sampai 1 % lah, 2% masih okeh. Kebanyakan keyword juga jadi tidak elok dibaca dan terkesan maksa.
  4. Cek dulu main keyword yang akan digunakan di Search Engine Machine aliasnya Google. Baca-baca dulu artikel milik kompetitor, baru kemudian mulai menulis konten dengan versi lebih baik dan lengkap
  5. Nulis artikel pakai aturan SEO, ada main keyword di judul, seluruh paragraf pembuka dan penutup, di badan artikel sesekali saja, di-mix sama secondary keyword.
  6. Perhatikan tulisan di heading 2,3,4 dst, semuanya harus mengandung main keyword.
  7. Jangan lupa masukkan external link yang menuju ke situs lain, misalnya merujuk ke sumber. Masukkan juga internal link yang menuju ke page lain dalam satu web.
  8. Sebelum menulis, writer juga harus deep research supaya artikel kaya akan informasi dan bagus. Harapannya bisa dilirik Google masuk ke page one

Banyak ya? Iya sangat banyak! Kalau saya bahas lengkap disini pasti akan lama dan bosan. Sebab masih ada ulasan tentang Copywriter yang harus dibahas. It’s okay, yang penting sudah punya gambaran mengenai topik dan rules-nya. Yuk, langsung ke poin berikutnya!

Di mana tayangnya hasil karya Content Writer?

Jika penulis artikel dapat melihat hasil karyanya di media cetak, seperti majalah, koran dan booklet, lain halnya dengan Content Writer. Tulisan dari Content Writer umumnya ditayangkan di situs blog perusahaan, media online, dan media sosial seperti Instagram, Facebook serta Twitter.

Jadi bila ingin mengetahui hasil tulisan atau mengumpulkannya untuk kebutuhan portofolio, sebaiknya kamu harus tahu dahulu nih artikel yang ditulis akan tayang di media apa. Kan sebuah kebanggaan juga hasil karya kita nangkring di media dan dibaca oleh banyak orang, yok semangat yok!

Apa saja job desk Content Writer

Secara garis besar job desk dari Content Writer adalah menuliskan artikel informatif dan self editing. Sebelum hasil tulisan diserahkan kepada Editor atau perusahaan, pastikan untuk mengoreksi secara mandiri terlebih dahulu mulai dari kesesuaian konten, apakah sudah SEO friendly, adakah padanan kata yang kurang tepat, typo, sudahkah menggunakan sumber credible hingga pemilihan judul. Cara ini sudah saya lakukan sejak masuk ke dunia writing sebagai upaya untuk meminimalisir adanya revisi dan menghemat waktu bekerja. Daripada untuk revisi atau mendengarkan keluhan klien, sebaiknya manfaatkan waktu ke depan untuk mengerjakan task selanjutnya, ‘kan?

Kemudian, ada beberapa perusahaan atau media yang meminta Content Writer untuk mengunggah serta menerbitkan artikelnya sendiri setelah melalui masa koreksi. Untuk itu, di iklan lowongan pekerjaan seringkali dituliskan persyaratan memahami cms atau sejenisnya agar nantinya penulis tidak perlu lagi kesulitan untuk mengunggah hasil karyanya. 

Satu hal yang seperti menjadi fenomena saat ini adalah Content Writer juga dituntut untuk bisa mengeditori tulisan penulis lain dan menguasai graphic design meskipun dalam level basic. Sedikit kritik untuk perusahaan yang masih menerapkan hal ini, ya memang tujuannya untuk menghemat anggaran fee pekerja tapi tidakkah sudah kelewat batas bila harus menyerahkan tanggung jawab desainer dan editor kepada tim penulis? Apalagi jika fee yang didapat masih sangat-sangat di bawah standard. Big no to apply menurutku. 

Terus apa bedanya dengan Content Writer dan Copywriter

Jika kamu remote job hunter, pasti tidak asing lagi dengan istilah Copywriter. Saat ini, perusahaan mana saja membutuhkan pengiklan kreatif yang bisa menarik perhatian audiens baik untuk meningkatkan kesadaran merek maupun penjualan. Maka salah satu solusinya ialah merekrut si pandai merangkai kata. 

Seringkali ini menjadi pertanyaan yang masuk ke chat WA di waktu senggang, 

“Ndong, apa sih bedanya Copywriter dan Content Writer? Apakah keduanya sama?” 

Begini, menurut sejarah yang pernah saya baca, Copywriting sebenarnya lebih tua dibandingkan Content Writing yang booming di era digital. Secara histori, Copywriting bahkan sudah dimulai sejak zaman Babilonia dan berkembang di tahun 1900an sebagai upaya untuk mengiklankan produk melalui kata-kata persuasif. Diyakini bahwa bidang ini melibatkan ilmu psikologi, marketing dan kreatif untuk meriset pasar lalu meyakinkan calon customer agar mempercayai suatu konsep dan kemudian mengambil tindakan. 

Di tahun 1600-an, Copywriting seringkali muncul untuk surat kabar dan majalah. Namun lambat laun di akhir 1800 hingga 1900-an John Emory Powers memperkenalkan sistem kerja freelance atau individualitas. Ia tidak bekerja di bawah naungan surat kabar atau majalah manapun, tetapi langsung bekerja untuk department store populer yang memproduksi enam iklan dalam seminggu. 

Tulisan dalam Copywriting lebih pendek dan singkat dibandingkan Content Writing yang panjang dan memuat informasi padat. Untuk itu, penulis harus menonjolkan kreativitas, sesuai target market dan mampu menarik perhatian dalam 5 detik pertama. Pada perkembangannya, profesi sebagai Copywriter masuk ke era keemasan saat inflasi digital mulai merambah. Aturan penulisan mulai dengan gaya baru dan lebih bebas.

Jadi sekarang sudah mulai bisa membayangkan ya bagaimana konsep dari Copywriting? Next, geser ke komponen-komponen Copywriting yang bisa kamu terapkan. 

Komponen Copywriting

Pada prinsipnya, Copywriting itu bagaimana menarik calon customer dengan kata-kata tepat. Sebelum merangkainya, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan supaya apa yang kamu tulis benar-benar tepat sasaran dan menembus goal

  • Kenali audiens dengan menciptakan persona. Catatan persona membantu Copywriter untuk menargetkan audiens tertentu. Unsur ini mencakup kepribadian, usia target, pekerjaan, sampai minat.
  • Gunakan keyword penting dan tepat sasaran. Bidang Copywriting saat ini banyak digunakan untuk kebutuhan iklan di media sosial dan online. Agar mudah masuk peringkat teratas mesin pencari, gunakan keyword penting yang sudah melalui proses research
  • Pecah konten jadi beberapa bagian. Copywrite storytelling membutuhkan deskripsi yang singkat namun jelas. Agar tetap persuasif dan mudah dibaca, cara efektifnya ialah membagi konten menjadi beberapa bagian. Misalnya menggunakan fitur bullet atau slide.
  • Call to action. Setiap iklan apapun itu jenisnya harus membubuhkan call to action di akhir frasa atau kalimat. Ajakan ini dimaksudkan agar calon customer melakukan tindakan, misalnya berlangganan newsletter, membeli produk, masuk ke landing page hingga menuju laman media sosial. 
  • Gunakan elemen visual. Penggunaan gambar atau video merupakan taktik jitu untuk menarik perhatian audiens. Menurut research yang dilakukan Hubspot nih, 37% pemasar menggunakan unsur ini untuk bisnis mereka. Jadi, kata-kata persuasif yang didukung oleh gambar menarik akan terlihat lebih real dan hidup. 
  • Bubuhkan link. Copywriting yang tayang di blog, website atau platform media sosial umumnya membubuhkan link untuk menuju ke laman produk atau apapun yang sedang dipasarkan. Di sisi lain, cara ini juga memungkinkan agar traffic pada web atau platform meningkat. 
  • Headline menarik dan kreatif. Sebelum masuk ke kalimat atau frasa persuasif, pembaca pertama kali akan tertuju pada headline. Bagian ini harus dan wajib dibuat semenarik dan sekreatif mungkin karena menjadi penentu apakah audiens akan melanjutkan ke informasi atau tidak. 
  • Mengikuti tren. Konten viral dan apa yang banyak dibicarakan di online  platform merupakan kunci naiknya pemasaran. Seorang Copywriter harus membuka telinga dan matanya secara lebar terhadap perkembangan tren masa kini untuk kemudian diadaptasi menjadi karya advertising yang kreatif serta menarik. 
  • Keep in touch dengan media sosial manapun. Media sosial adalah pintu gerbang menuju target audiens. Manfaatkan Facebook, Twitter, Instagram hingga Tiktok untuk memuat Copywriting. Cara ini memungkinkan iklan dapat dibagikan dari pengguna satu ke lainnya, meningkatkan konversi, lead, kesadaran merek. Lebih lanjut bahkan membuahkan peningkatan penjualan.

Formula Copywriting

Nah, dari komponen Copywriting yang bisa diterapkan di atas, dalam proses kerja kreatifnya, Copywriter juga mesti tahu formula dalam menulis iklan. Jadi bukan hanya sekadar kreatif dan menarik, melainkan juga memiliki struktur yang jelas supaya lebih ampuh dalam memikat hati audiens. 

Secara teori setidaknya ada 5 formula Copywriting yang umum digunakan, apa saja sih?

1. AIDA (Attention – Interest – Desire -Action)

  • Attention: dimulai dengan headline menarik yang bisa menarik perhatian.
  • Interest: menumbuhkan ketertarikan dengan memberikan informasi menarik.
  • Desire: menggugah emosi audiens agar menginginkan produk.
  • Action: mengajak untuk bertindak dengan mencantumkan call to action.

Contohnya: Skincare A terbukti membuat kulit glowing hanya dalam seminggu. Skincare asli Indonesia ini memiliki kandungan vitamin C, E dan bulir emas untuk mencerahkan serta menyehatkan kulit. Ada 5 rangkaian yang wajib kamu aplikasikan agar hasilnya maksimal. Yuk, tambahkan ke list belanjaanmu!

  1. PAS (Problem – Agitate – Solution)
  • Problem: mengidentifikasi masalah yang sering dihadapi oleh audiens.
  • Agitate: munculkan akibat dari masalah tersebut.
  • Solution: beri solusi dari masalah yang mereka hadapi.

Contoh: Kekurangan cairan tubuh membuat lemas dan dehidrasi. Kondisi ini akan memperlambat metabolisme dan sistem kerja organ, sehingga dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Untuk itu, kami persembahkan minuman A yang mengandung elektrolit agar cairan tubuh tetap terjaga dan senantiasa sehat.

  1. 4C (Clear – Concise – Compelling – Credible)
  • Clear: menggunakan bahasa yang jelas dan to the point.
  • Concise: strike to the point.
  • Compelling: gunakan deskripsi atau cerita menarik untuk mengalihkan fokus audiens. 
  • Credible: mention keunggulan produk.

Contohnya: Tas punggung serbaguna dari brand A. Terbuat dari bahan waterproof yang tahan terhadap cuaca. Dilengkapi oleh resleting, satu kompartmen utama berbusa tebal, saku depan dengan flap dan saku belakang yang berfungsi sebagai quick access. Tas punggung kami telah dipercaya sejak tahun 1990 sebagai produk terbaik yang kuat, tahan lama serta berkualitas.

  1. ACCA (Awareness – Comprehension – Conviction – Action)
  • Awareness: menciptakan kesadaran merek
  • Comprehension: menuntun audiens untuk memahami masalah yang mereka hadapi. 
  • Conviction: meyakinkan mereka untuk menghadapi masalah
  • Action: ajakan bertindak.

Contohnya: Kulit seringkali cepat gosong ketika berada di bawah sinar matahari terik. Bila tak segera diatasi akan membuatnya semakin kering, muncul flek hitam hingga menghadapi penuaan dini. Tenang, semua bisa diatasi dengan sunscreen terbaru dari brand A. Kandungan SPF 40+, vitamin C dan E akan membantu kulit tetap terjaga meski dibawah sinar terik. Kini, saatnya say good bye to bad skin dan selamat datang sunscreen brand A!

  1. BAB (Before – After – Bridge)
  • Before: menunjukkan masalah yang dihadapi oleh audiens.
  • After: memberikan gambaran ketika masalah sudah teratasi.
  • Bridge: memberikan jembatan kepada audiens dari keadaan sebelum dan sesudah menggunakan produk.

Contohnya: Belajar TOEFL sendirian malah tambah bingung. Jika dibimbing oleh tutor berpengalaman pasti akan membuatmu lebih mengerti. Makanya, mulai sekarang daftarkan diri ke kursus TOEFL kami untuk mendapatkan bimbingan terbaik dari expert selama 4 bulan. Info lebih lanjut kunjungi situs resmi kami!

Kelima rumus di atas seringkali digunakan untuk penulisan Copywriting. Selain itu juga ada beberapa formula yang bisa kamu pelajari sendiri, seperti FAB (Feature – Advantage – Benefits), AIDPPC (Attention – Interest – Description – Persuasion – Proof – Close), 4P (Picture – Promise- Prove – Push) dan masih banyak lagi lainnya. 

Secara teori sih demikian, tetapi pada praktiknya kamu akan menemui berbagai jenis Copywriting, seperti storytelling, menciptakan slogan-slogan unik, hingga caption menarik untuk media sosial. Kuncinya, be creative, imaginative and out of the box. 

Dimana tayangnya hasil karya Copywriter

Dulunya hasil karya Copywriting terbit di surat kabar atau majalah. Ketika media elektronik menggempur, mulai ditayangkan untuk kebutuhan iklan televisi dan radio. 

Berbeda lagi dengan era digital seperti saat ini, hasil karya Copywriting mulai terbit di website, blog, media sosial, email, online ads, serta masih banyak lagi lainnya. Dengan catatan, jika credit Content Writer dituliskan secara jelas, maka berbeda dengan credit Copywriter yang justru tidak dituliskan. Jadi, bersiap-siaplah untuk menjadi penulis hidden tapi mampu berbicara lewat kata-kata.

Apa sih job desk Copywriter?

Job desk utama dari Copywriter tentu saja menuliskan tulisan copy yang mampu menarik minat audiens. Saat ini, mereka juga dituntut untuk bisa me-research tren yang sedang ramai, memahami penggunaan keyword research tools, membuat content calendar, konsep, visual bahkan merancang video sederhana untuk kebutuhan story, reels dan short

Bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan sebagai Remote Content Writer dan Copywriter

Gimana-gimana, sudah punya gambaran tentang Content Writer dan Copywriter? Menurut kamu itu seru atau justru sebaliknya? 

Well, itu semua hanya butuh langsung terjun ke lapangan. Membaca teori memang terlihat rumit, nyatanya setelah melakukannya, itu sungguh sangat mengasikkan. Kamu hanya perlu learn by doing dan memahami setiap pekerjaan yang dilakukan. 

Tapi pertanyaannya, “Dari mana mendapatkan project atau pekerjaan sebagai Content dan Copywriter?”

Saat ini sudah banyak perusahaan yang menawarkan untuk posisi tersebut, baik bekerja secara on site, hybrid dan remote. Namun yang seringkali mengundang banyak minat, utamanya untuk ibu rumah tangga adalah “Remote job”.

Menurut pengalaman, ada beberapa remote job platform yang menyediakan berbagai posisi untuk Copywriter dan Content Writer, seperti:

  1. Projects.co.id
  2. Freelancer
  3. Fastwork
  4. Sribu
  5. Upwork
  6. Dsb.

Umumnya, platform-platform di atas menggunakan sistem bid, yang mana setiap penulis harus mencantumkan penawaran fee dan portofolio kepada calon klien. Biasanya kamu akan bersaing dengan penulis lainnya, baik dari segi keahlian, penawaran fee dan portofolio. Klien akan memilih mana yang paling cocok, baik dari segi skill, budget dan track record

Kalau belum berhasil dipilih oleh calon klien bagaimana? Coba dengan penawaran pekerjaan dari klien lainnya. 

Secara pribadi sih saya kurang begitu cocok dengan sistem bid. Selain karena lama, juga budget yang ditawarkan oleh klien cenderung tidak sesuai dengan standard rate. Jadi darimana saya mendapatkan project dan pekerjaan secara remote selama ini? 

Pertama dari link. Kebetulan, pernah bekerja di salah satu media online nasional memberikan privilege tersendiri. Informasi mengenai lowongan pekerjaan dan project didapatkan dari ex officemate yang juga sudah melebarkan sayap sendiri. Dari sini kemudian kenal dengan temannya teman, temannya temannya teman sampai meluas. 

Kedua, apply secara mandiri melalui job seeker platform, seperti Linkedin, Kalibrr, Glints, Indeed, Glassdoor, Dealls dan Jobstreet. Platform-platform ini memberikan rekomendasi lowongan pekerjaan sesuai minat dan keahlian. Jika minat kamu di bidang tulis menulis, maka ketika membuka akun, sudah secara otomatis akan disuguhkan dengan berbagai lowongan pekerjaan sebagai Content Writer, Copywriter, Script Writer dan creative job lainnya. 

Menariknya, apply melalui job hunter di atas, lowongan langsung diunggah oleh perusahaan yang membutuhkan, sehingga terjamin keamanannya. Selain itu, kamu juga tidak perlu memberikan penawaran budget karena ini sama halnya kamu melamar pekerjaan biasa. Sisi keunggulan lainnya yakni ada banyak perusahaan luar negeri mulai dari Singapura, Filipina, India, Malaysia, Australia, Vietnam, Cina sampai ke benua Eropa yang mengiklankan lowongan kerja. 

Jika kamu menginginkan pekerjaan secara remote, mudah saja, tinggal set jenis lokasi remote. Tapi kalau saya pribadi, random saja. Kalaupun memang mereka menginginkan on site atau hybrid, di sesi wawancara nanti saya bisa mengajukan negosiasi remote working. Sebagian sih ada yang mengabulkan, sebagian lagi tidak. But it’s okay, you have to try another way. Bukan begitu? 

Ketiga, informasi tentang remote job sebagai Content dan Copywriter bisa juga didapatkan dari media sosial seperti Instagram, Twitter dan Tiktok. Tapi, kamu mesti ingat untuk kroscek nama akun, perusahaan yang membutuhkan dan bagaimana sistem fee serta kerjanya terlebih dahulu sebelum memutuskan apply. Apabila pelamar diharuskan untuk membayar deposit atau semacamnya, sebaiknya tinggalkan sebab hal itu jelas penipuan. 

Jenis-jenis project bekerja remote

Sistem secara remote tentu berbeda dengan on site yang harus multitasking. Kerja WFH lebih fleksibel dan hanya mengerjakan pekerjaan sesuai bidang. Dalam praktiknya, remote worker akan menemui berbagai jenis project. Let me show you!

Bagaimana sistem kerja dan kisaran fee yang didapat?

Dari jenis-jenis project di atas, juga memengaruhi bagaimana kamu mendapatkan fee. Ingat, karena bekerja secara remote, rupiah yang didapatkan bukanlah gaji melainkan FEE atau UPAH. 

Dalam menjalankan pekerjaan ini, saya selalu menerapkan ketiga project di atas. Tujuannya untuk menjaga keamanan pemasukan. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan pekerjaan secara freelance atau short project yang berjalan dalam waktu singkat, lantas bagaimana kehidupan selanjutnya?

Dengan demikian, ada tiga sistem fee yang saya dapatkan: 

  • Long project: Sistem penggajian bulanan layaknya karyawan perusahaan, namun dengan job desk dan tanggung jawab yang telah disepakati.
  • Short project: Bisa sistem penggajian bulanan atau sesuai dengan rate yang saya ajukan. 
  • Freelance: sesuai dengan rate, bisa dari per kata, per 500/1000/1500, dst kata. 

Dalam menerapkan rate, pastikan untuk selalu up to date dengan besaran rate Content dan Copywriter saat ini. Biasanya ada perbedaan rate antara pemula, intermediate dan profesional. Hal ini didasarkan pada lamanya pengalaman dan bagaimana kinerja mereka. 

Bekerja sebagai Remote Content dan Copywriter sebetulnya menjanjikan agar kamu menjadi individu yang berkembang dan melek digital. Dari mana asalmu, di mana tempat tinggalmu dan bagaimana background pendidikanmu seringkali tidak menjadi pertimbangan, yang terpenting adalah skill dan kemauan untuk self development. Siapapun bisa saja mengatakan kamu jobless karena hanya berdiam diri di rumah menggunakan pakaian santai, but they don’t what you do in front of your gadget. 

Just a pick of my story tentang pengalaman bekerja secara remote sebagai Content dan Copywriter. Saya menyadari bahwa pengalaman yang saya bagikan masih terbilang ‘kacangan’, tetapi saya berharap bisa memberikan gambaran umum dan berguna bagi kamu yang sama sekali tidak tahu tetapi benar-benar ingin tahu. I hope you get your best and let us meet on top!

I do really feel free to keep in touch with you by email and social media DM. Good luck!

You may also like...